Jembatan Ampera & Sungai Musi kala malam, cindo nian
(foto : Lina Gunawan)
Palembang, ibukota propinsi Sumatera Selatan.
Ini kota tempat saya dibesarkan. Terhitung sejak kelas 3 SD sampai tamat kuliah saya ada di kota ini dan bertumbuh sehingga dapat menjadi orang seperti sekarang ini tidak dapat dipungkiri akibat didikan yang saya peroleh di kota Palembang.
Mengenang ulang tahun kota Palembang pada tanggal 17 Juni 2009 yang ke 1329 (kota tertua di Indonesia) saya mencoba untuk posting tentang kota tempat saya dibesarkan ini (walaupun saya lahir di Surabaya). Tetapi terus terang saya tidak akan menuliskan hal-hal yang berbau sejarah ataupun struktur geografis kota ini karena tentang ini semua dapat dicari di internet, lengkappppppp… bahkan sangat lengkap. Dan saya juga merasa tidak mumpuni untuk menjadi spoke person yang detil untuk kota Palembang karena terus terang saya pun masih banyak menelusuri sejarah Palembang dari internet. Jadi untuk tema yang berbau sejarah silahkan googling sendiri dengan keyword asal usul kota Palembang, sejarah jembatan ampera, sungai musi, Anda akan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.
Jadi apa yang akan saya tulis dong? Ya adalah sedikit sejarah atau profil tetapi bukan itu intinya, saya justru ingin mengajak rekan-rekan yang berkampung halaman sama dengan saya, atau juga mereka yang sudah pernah tinggal di Palembang untuk bersama-sama mengenang saja. Ya… mengenang hal-hal yang berkesan selama tinggal di sana. Sedikit subjektif memang, tetapi bukankah itu yang membuat kita mencintai kota tempat kita dibesarkan? Jadi bukan karena sejarah, bukan karena kota itu cantik ataupun megah (Palembang jauh dari megah dibandingkan Jakarta bahkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia) tetapi memang karena kenangan yang kita dapatkan di kota itu yang membuat kita tidak dapat melupakan Palembang.
Saya pun meminta bantuan rekan-rekan yang berkampung halaman di Palembang untuk saling refresh memori kita tentang Palembang karena terus terang mungkin apa yang saya paparkan hanya sebatas ingatan saya yang mungkin kurang lengkap dan kurang saya ketahui di beberapa hal. Jadi silahkan mengingat-ingat seluruh detil yang berkesan di otak kita tentang Palembang ini dan ikutan nimbrung berkomentar dan menulis melengkapi tulisan saya. Dan saya akan membagi posting ini menjadi dua bagian biar tidak terlalu panjang. Ini yang pertama, dan besok akan saya sambung dengan yang kedua. Inilah beberapa di antaranya menurut versi kenangan saya.
LOKASI BERSEJARAH
Sudah jelas lokasi bersejarah tidak akan terlepas dari ingatan, karena memang lokasi-lokasi yang lebih dikenal dengan istilah landmark itulah yang menjadi unggulan setiap kota.
Sungai Musi
Sungai yang membelah kota Palembang menjadi dua bagian. Hilir dan Hulu, atau kalau di Palembang menjadi kata Ilir dan Ulu. Dua bagian kota yang memang sedikit berlawanan dalam perkembangan. Saya ingat setiap kali saya ke daerah Ulu memang tidak semegah di Ilir, tetapi justru di Ulu masih lebih berciri khas daerah Palembang dibandingkan Ilir yang sudah lebih metropolis.
Pembagian Ilir dan Ulu ini juga yang jadi patokan untuk pembagian kecamatan di kota Palembang. Jadi begini… di Palembang itu sudah kebiasaan jika bertanya lokasi tempat tinggal berdasarkan patokan ilir dan ulu.
“Tinggal di mano?”
“Di 20 ilir”
Nah kalau yang mengenal wilayah Palembang dengan baik, biasanya sudah mengerti daerah 20 ilir itu ada di kisaran apa. Ini juga menjadi patokan kalau harus berkirim surat, kecamatan berupa Ilir Timur I, 20 ilir, sangat membantu tukang pos, selain hanya nama jalan. Demikian juga di ulu, ada wilayah 10 ulu, 2 ulu, dan sebagainya.
Setiap kali melewati Sungai Musi tetap ada perasaan kalau sungai ini termasuk sungai yang megah. Beda rasanya dengan melihat laut. Sungai yang penuh dengan kegiatan dengan arusnya serta besarnya yang cukup menyeramkan juga kalau dilihat dari atas Jembatan Ampera. Saya juga pernah ke Kalimantan, melihat sungai yang ada di pulau Kalimantan, berusaha membandingkan, hasilnya malah kok sama perasaannya dengan melihat Sungai Musi, mungkin karena memori itu tadi… sungainya memang sama-sama megah!
Pom bensin terapung di Sungai Musi, ada toiletnya lagi (foto : Lina Gunawan)
Jembatan Ampera
Jembatan Ampera ini yang membuat julukan nyeleneh buat kota Palembang, ya… julukannya San Fransisco Indonesia. Setelah dilihat-lihat, hmmm… emang iya sih ada miripnya hahaha… (hello there teman-teman yang ada di SF?? Bisa kasih gambaran kemiripannya??) Ada yang menjuluki sebagai Venesia di Asia… hmmm ini saya masih kurang paham, karena memang tidak sama dari semua struktur karena yang jelas di Palembang transportasi sungai bukan utama, dan sungai juga tidak mengelilingi perumahan. Mungkin malah di Kalimantan masih lebih kental nuansa transportasi sungainya. Saya sih justru melihat Jembatan Ampera lebih berperan sebagai penghubung lalu lintas darat yang dapat diandalkan antar kota Palembang bagian Ilir dan Ulu. Konon memang dulu jembatan ini bisa dibuka tutup, tetapi sekarang sudah tidak berfungsi seperti itu mengingat umurnya juga sudah tua, dan juga lalu lintas sungai sekarang sudah tidak sepadat dulu jelassss.
Setiap saya melewati jembatan Ampera ini (seringnya naik motor dulu) memang sih tidak merasa melewati jembatan bersejarah. Lalu lintas di jembatan tidak padat memang, jadi semua kendaraan lancar kalau melewati jembatan ini, jadi cenderung kendaraan yang lewat rata-rata dengan kecepatan yang lumayan ngebut. Beda kalau sudah malam hari! Nah… baru keren dengan lampu-lampunya, melihat sungai yang ada di bawahnya betul-betul merasa bahwa kota ini memang unik. Apalagi sekarang jembatan Ampera sudah dipercantik, wow… betul-betul jembatan yang beda dari semua kota di Indonesia (lihat foto paling atas)
Museum Sultan Mahmud Badarudin II dan Benteng Kuto Besak
Nah… terus terang saya lupa dengan dua lokasi ini. Saya pernah mengunjungi salah satu museum di Palembang, ya mungkin rasanya museum ini tetapi benaran lupa bentuknya. Memang tidak semegah di Jakarta atau negara lainnya makanya tidak terlalu saya ingat, padahal saya suka ke museum.
Benteng Kuto Besak… ah saya terbantu dengan foto dari rekan-rekan sesama Palembang yang saya posting satu di antaranya. Walaupun saya tidak pernah mengunjungi dari dekat tetapi dapat melihat antiknya dari foto. Sejarah Benteng Kuto Besak dapat dibaca di sini
Benteng Kuto Besak pagi hari (foto : Lina Gunawan)
Bandara udara lama dan bandara udara baru
Dulu saya sebal dengan bandara udara yang lama. Aduh… sama sekali tidak mewakili ciri khas kota yang lumayan besar di Indonesia. Bandaranya sempit dan sangat tidak nyaman. Tetapi sekarang hohoho… bandara udara yang baru… keren banget! Walaupun tidak sebesar Jakarta, tetapi sudah setaraf dengan bandara udara kota besar lainnya seperti di Surabaya, Medan, Bali. Penataan pun bagus, sehingga setiap kali saya turun dari pesawat kala harus mudik sudah tidak gerah berdesak-desakan dengan sesama penumpang hanya untuk keluar dari bandara!
Pasar 16 ilir
Ini pasar terbesar di Sumatera Selatan. Pernah terbakar dan akhirnya namanya ada embel-embel ‘baru’. Ya kayaknya setiap propinsi memiliki pasar tradisional besar yang akhirnya terbakar dan mendapat nama perpanjangan ‘baru’. Entah sengaja atau tidak. Sama juga dengan pusat kulakan di setiap kota besar, di sini memang pusat semuanya, dari grosir dengan retail sebelum munculnya grosir dan retail-retail dari luar negeri yang mencaplok rejeki pengusaha lokal.
KULINER
Pempek ! Iyalah pasti, tetapi hei… pempek di Palembang itu jenisnya banyak! Setiap wilayah ada keunggulan tersendiri. Lebih baik saya tidak membahas pempeknya, karena buat orang Palembang, bukan hanya pempek yang makanan khas Palembang. Jadi saya telusuri saja daerahnya… Mungkin ada yang bisa melengkapinya lagi nanti karena terus terang saya sudah tidak mengikuti makanan-makanan yang ada di Palembang sekarang. Jadi saya tulis yang ada pada zaman saya saja hehehe…
Dempo Dalam sampai ke jalan Lingkaran
Di sini rasanya surga jajanan khas Palembang. Dari pempek ikan, pempek gandum, kerupuk, es kacang sampai mie ayam Palembang. Yang ngetop yang saya ingat (ya karena sering mampir), ada :
Mamat
Es kacang jadi andalan zaman dulu, tetapi sekarang bukan hanya itu. Kelihatannya makanan khas Palembang di Mamat ini semua jadi favorit. Pempek panggang dan lenggang panggang juga favorit di sini.
Mi Ahok & Mi Aloy
Kedua lokasi ini memang menjual mi yang tidak halal dan yang halal hehehe… Kedua mi ini saking ngetopnya sampai di Jakarta pun ada untuk mengobati kangen orang-orang Palembang yang ingin makan kedua mi yang sampai sekarang tetap ngetop ini.
Suwandi
Kerupuk Suwandi yang berderet sepanjang ruko. Ini juga asyik… setiap ke toko kerupuk yang dicari juga bukan hanya kerupuk. Tetap ada saja jual yang khas Palembang, seperti lempok (dodol duren), sambelingkung (abon ikan).
Sepanjang Sudirman
Martabak HAR
Martabak telor ciri khas India ini kayaknya sudah di-klaim secara tidak langsung sebagai makanan ciri khas Palembang juga deh! Bukan hanya jual martabak telor yang berkari itu, tetapi juga Martabak daging (yang terus terang menurut saya memang di Palembang paling yummy martabak daging itu.. martabak semua kota selain Palembang tetap kurang passssssss hahaha…). Cabang Martabak Har yang paling ngetop memang di area Sudirman tetapi pada dasarnya di setiap wilayah di kota ini terdapat Martabak Har yang tidak perlu dikhawatirkan rasanya, semua sama! Sama enaknya hehehe…
Martabak HAR ini dulu sebagai makan siang yang murah meriah waktu saya pulang kuliah dan harus segera pergi kerja tanpa sempat makan di rumah. Hanya Rp 2000 sudah kenyang. Nah sejak krismon tahun 1998, naik dua kali lipat! Naik kelas jadi makan siang yang mewah buat ukuran saya yang masih mahasiswa kalau harus makan siang dengan uang sendiri saat itu. Dan sekarang ya sudah jelas jauh lagi dari harga Rp 2000 itu hehehe…
Martabak Har lagi dibuat (foto diambil dari Martabak Har Fans Page di Facebook)
Rumah Makan Pagi Sore (Siang Malam) & Nasi Padang
Ini dia rumah makan Padang yang sudah terkenal lama dan memang terkenal mantap rasanya dibandingkan rumah makan Padang ber-franchise seperti sekarang ini. Harga ?? Ya emang rada mahal juga sih hehehe… Tapi di sini semua menu masakan khas Padang lengkap! Ruang makannya juga enak. Cabang yang terkenal juga di area Sudirman itu. Dan lagi-lagi, mau makan di restoran atau warung, tetap masakan Padang di Sumatera itu rasanya lebih enak jauuuhhhhh daripada masakan Padang di kota lainnya selain di Sumatera (referensi aja sih buat mereka yang belum pernah makan nasi Padang di pulau Sumatera hehehe…). Suami saya yang bukan orang Palembang juga mengakui, karena di Palembang dia bisa suka makan ikan sebagai lauk waktu makan nasi Padang, satu hal yang tidak pernah ia lakukan di tempat lainnya hahahaha… Entah ya… di kota selain pulau Sumatera memang bumbunya kurang nendang aja kecuali kebetulan pemiliknya memang orang Padang yang saya merasa masih ok, tapi kalau sudah yang skala rumah makan yang dijaga karyawan beda bangetttttt…
Bersambung dengan kuliner khas Palembang berikutnya besok !
Filed under: artikel, Testimoni Tagged: | hometown, kampung halaman, palembang, ulang tahun


Meski lahir dan besar di Palembang.. aku gak banyak tau soal kota itu.
Maklum.. anak pingitan.. taunya sekolah dan rumah saja.
Kalo kata Afuk.. aku ini bukan orang Palembang, melainkan orang Plaju… karena pengetahuanku terbatas di sana saja.
Sedang dia bisa dengan asyik berbagi cerita dengan Papaku tentang sudut-sudut kota Palembang..
Hehehe…
heh? tapi emang sih plaju sama palembang itu beda
aku juga gak familiar sama plaju, padahal jaraknya deketan ya hahaha
umm iya neh ngomongin palembang…wlopun bukan asli palembang tpii daku suka bget tgal disini….cz bisa ktm…some one hehehe
itu sih betah deket sama someone jon hehehehe
oi.. hebat nian pacak bikin website dan cerita engkap tentang palembang.
aku jadi mulai inget lagi kenangan dulu di palembang walaupun sudah dari lulus sma tahun 1994 sampe sekarang aku la dak disano lagi.
thanks yo fem
samo-samo joice. website udah lamo lagi hehehehe.
wah lamo jugo ye idak ke palembang lagi. aku sih masih lah sekali2.. terakhir november 2008
Weitsss… makanannn… jd kangen martabak HAR…
Btw, ado lagi makanan kecil namonyo “gulo puan”. Biso dibilang maknan kampung krn dak banyak wong Palembang yg tau soal makanan ini. Dulu waktu kecil, SD kelas 2 atau 3 lah, aku tinggal di 10 ulu. Tiap sore ado bapak2 atau ibu2 setengah baya bawa panci yg bentuknyo bulet agak lonjong lumayan besak ukurannyo ditenteng jalan sambil teriak “gulooo puannnn..” Waktu masi kecil, duit jajan jugo dikit, hargo ‘gulo puan’ sesendok makan Rp50,- jadi kalo punyo duit Rp100,- rasonyo dapet gulo puan lumayan banyak. Kato penjualnyo cemilan ini biso dimakan samo roti tawar. Bahan dasarnyo susu trus diolah, dak tau cak mano ngolahnyo. Warnonyo kuning kecoklatan, bentuknyo kaya oatmeal tp agak kering dan rasonyo manis.
Tapi jaman sekarang ini, pembuat makanan ini sudah berkurang. Pembuatnyo kebanyakan dari pinggir kota Palembang spt di pendopo, lahat dll. Kalo ado yang mau tau rasonyo spt apo, cemilan ini biso dibeli dkt pintu masuk / dipingiran mesjid agung, seberang kantor pos pusat (dkt Jembatan AMPERA) pas hari Jumat, dkt2 waktu sholat Jumat sekitar jam 11 siang. Sptnyo skrg hargonyo sekilo Rp40.000,- tp tawar bae mungkin biso dpt sekilo Rp.35.000,- kito jugo biso beli 100gr, 1/4 kilo. Kalo repot beli dewek, minta mamang supir be beliin. Mereka jualannyo seminggu sekali doang.
Dak sabar nunggu kuliner khas Palembang by Femi selanjutnyo.. Fem ado burgo, lakso, celimpungan…. yummmmmmmmm
wahhhhhhhh aku blom pernah makan itu hahahaha… cubo ye kapan-kapan aku cari.
di surabaya ado dak ye ??? wakakakaka
aku dulu suka tuh sarapan celimpungan kekekekekeke
Kaka…
Aku taunyo yang namonyo “Gulo Palu”..
Ini gulo merah yang dimasak, trus dililitke di sebatang potongan bambu kecik, jadi bentuknyo cak palu atau pentungan.
Biasonyo kito tarik-tarik dulu sambil dililit-lilit ke bambu ini. Cak kironyo agak kenyal.. baru didiemke bentar trus dimakan cak permen kojek.
Nah… gulo palu ini la pernah jadi bencano untuk aku.. soalnyo pas lagi main lengket di rambut aku yang panjang..
Terpakso lah mamak aku motong pakso rambut aku jadi pendek.
Hiks..!!
*jadi pengen bikin gulo palu niy…
Saya belum pernah ke Palembang karena saya belum pernah menginjakkan kaki di Sumatera. Terbang di atasnya pernah beberapa kali ketika menuju ke Malaysia.
Tapi pacar pertamaku dan teman-temannya dulu adalah orang-orang dari daerah selatan Sumatera situ jadi meski belum pernah ke sana, mereka telah memberikan sedikit gambaran fisik tentang seperti apa Palembang.
Suatu saat pengen ke sana terutama mencoba wisata kulinernya. Mulai dari kemplang, pempek, masakan Padang dan tentu saja… SEAFOOD!!!!
Ngemeng-emeng, aku kok lupa singkatan AMPERA ya..? Yang pasti bukan Amanat Penderitaan Rakyat ya..?
Ampera ya emang singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat, Don hehehehehe…
Pertama namanya jembatan Soekarno, sesuai yang nama proklamator yang mengusulkan dan menyetujui pembuatan jembatan penyebarangan antara ulu ke ilur ini, tetapi akibat pemberontakan-pemberontakan yang membuat orang jadi tidak suka dengan Soekarno.
Seafood ya hehehe… kalo seafood aku kok ngerasa masih lebih ok di Pangkal Pinang / Bangka, dulu kota ini masih masuk propinsi Sumatera Selatan, sekarang sudah berdiri sendiri. Di Palembang gak terlalu ok seafood-nya wkwkwkwkw…
Masi ada fem…nasi goreng merah deket cinde….sate padang kribo deket JM…pempek sagu deket ETW langsung t4 yg bikin… Duuuhh fem…jd ga sabar pengen cepet balik….
hehehehhee… etw sekarang masih ado dak ye ??? masih cak nyo tapi tinggal satu ruko kekekeke
Satu yang aku kehilangan dari kuliner Palembang: Kwetiaw! hehehe walau di Jakarta dan di tempat lain juga banyak, tetapi tekstur kwetiaw di palembang tuh beda nian. kalo di palembang tuh kwetiaw nyo lebih ‘solid’ jadi kalo digigit/di mulut lebih teraso daripada yang disini T__T isi lainnyo jugo lebih banyak variasi.. ahh nyam nyam..
Yang biso aku bawa balik ke jakarta dari palembang, samblingkung & caluk hehehe.. walo di tempat lain ado terasi ato apo-pun yang lain namonyo, caluk jugo rasonyo beda =)
btw, aku jugo blom pernah tau cemilan yang kaka ceritoke itu.. >.< ah kangenn..
*kruyuukk.. kruyukkk* =P
baru inget kalo terasi palembang namonyo caluk, jadi suka keliru dengan calo hahaha… cemilan yang kaka ngomong jugo aku dak pernah nemu tuh…
Hmm..hebat bener ibu ini..wong arek suroboyo yg paham palembang rek he3..Salute..!!
wow jd pengen gulo puan nih..kynya gulopuan ini bisa dikategorikan sbg appetizer/dessert nya org palembang (mgkin dulu/ pd zamannya, makanan tsb adalah makanan para sultan/raja2 he3..dan makanan ini sdh hampir punah..
Tambahan kuliner di palembang nih biar tambah “Ngiler” :
pempek MDP (ukurannya kecil2, harganya lumayan (mahal maksudnya) tp pool..
pempek lenggang bakar saga (sudi mampir) hmm..
mie celor 26 ilir yg maknyus..
mi muslim (mi goreng jawa) disamping kodam..
ayam kalasan yogya di sebelah martabak har yg di simpang sekip..
nasi goreng maknur (sumatera restaurant jln sudirman)..
nasi goreng bang ali depan IP hmm..
Selamat Menikmati…
salam N bravo buat femmi….
Nah ini cucu pemilik Martabak HAR akhirnyo nimbrung hehehehe…
btw tetep di mana2 susah dapet martabak har
Pempek MDP, aku tahu.
Pempek lenggang bakar saga, mie celor 26 ilir nah blom pernah dan beberapa komentar yang masuk jugo suggest dua ini.
Mi goreng jawa samping kodam, enakkkkkkkkkkkkkkkkkk
Ayam kalasan jogja, lumayan, mahalllllllllll jefffffffffffff hehehehe…
Nasgor Sumatera, enak (selera kita kok sama ya hahahaha)
Nasgor bang ali depan IP blom pernah hehehehe..
Thx udah melengkapi Jeff
Hhmmm kuliner lagi nih heheheh.. Aku paling suka kwetiaw yg di Taksam tuh… uda enak apolagi porsinyo yg super duper buanyaaakkk uuuaahhhh hhmmm nyam. nyammm.. Es kacang merah yg di lapangan hatta jg tuh.. Mie celor yg di 26 ilir jg uuueennaaaakkk tenan dah pokoke (mesti di coba fem) heheheh
Klo kerupuk or kemplang yg di 601 klo aku biaso beli, apolagi yg kemplang panggangnyo mantap dah pokoknyoooo…. Klo semuanyo di inget2 buaanyyaakk dah makanan palembang yg lezat, muantap,enak2, yg pasti bikin semua orang ngiler…
Aku jd pengen balek neh fem hik.. hiks….
loh emang kau di mano ?? kiroi di palembang hehehehe
Two thumbs up untuk tulisan menjelang ultah kota Palembang yang ke 1326.
Observasi yang ditulis di bawah ini merupakan perubahan yang saya lihat setiap kali kembali ke Palembang. Dalam lima tahun terakhir ini, Palembang mengalami perubahan yang cukup besar.
Palembang – the Growing Pains . . .
• Jalan Kapten A. Rivai berevolusi menjadi ‘financial district’ kota Palembang. Bank2 nasional pada umumnya memiliki kantor cabang (ataupun kantor pusat) di jalan Kapten A Rivai.
• Mungkin penambahan jumlah kendaraan bermotor di Palembang bertambah menurut deret ukur, sedangkan penambahan ruas jalan bertambah menurut deret hitung? Seperti misalnya, Jalan Jendral Sudirman (selepas pasar Cinde ke arah jembatan Ampera) yang 6 – 7 tahun yang lalu tidak pernah mengalami kemacetan, sekarang macet setiap hari (miriip dengan Jalan S. Parman antara Grogol – Tomang).
• Palembang telah mendapat penambahan jalan layang dalam kota yang pertama di tahun 2009 ini. Dengan adanya penambahan jalan layang ini, lalu lintas di simpang Polda, sekarang menjadi sangat lancar!
• Sebagian jalan di Pasar 16 Ilir yang tadinya tidak bisa dilalui kendaraan bermotor karena dipenuhi oleh pedagang2 kecil di ruas2 jalan yang mengarah ke jalan Tengkuruk Permai, sekarang telah bisa dilalui kendaraan. Pedagang2 kecil tersebut berangsur2 telah dipindahkan ke Pasar Jakabaring di sebelah Ulu sebagai satu pasar terpadu yang luas. Proses pemindahan yang berlangsung cukup lama ini merupakan suatu dilemma. Di satu pihak untuk kebersihan dan kelancaran transportasi, di lain pihak adalah masalah pencarian nafkah dari para pedagang kecil tersebut. Nampaknya dengan pemindahan yang berangsur2, masalah ini telah mendapat penyelesaian yang cukup baik.
• Disamping itu, kantor2 Pemerintahan juga berangsur2 telah dipindahkan ke bagian Ulu. Proses ini akan membawa pemerataan perkembangan kota secara keseluruhan dan secara tidak langsung akan membantu mengurangi kemacetan di bagian Ilir, begitu ada sebagian aktivitas yang pindah dari bagian Ilir ke bagian Ulu
• Sepuluh tahun yang lalu pusat pertokoan di Palembang hanya berkisar di daerah Gaya Baru dan Dika, plus International Plaza. Dalam 2 – 3 tahun terakhir ini telah bertambah tiga mall lagi (di daerah Kampus, di Ilir Barat, dan dekat hotel Novotel): PIM, PTC, Palembang Square. Mengingat daya beli di kota2 yang relatif kecil seperti Palembang, adakah kemungkinan terjadi kanibalisme antar mall yang baru dengan mall yang lama? Pusat perbelanjaan Ilir Barat dengan Hero Supermarketnya sempat berjaya sekitar 5 – 6 tahun yang lalu, sekarang mungkin hanya tinggal gedung kosong yang telah ditinggal para pedagangnya?
• Seiring dengan perkembangan ekonomi, franchise2 nasional ataupun internasional telah masuk ke Palembang. Beberapa tahun yang lalu, masing sering terlihat orang2 yang pulang ke Palembang sering membawa Dunkin Donat atau Pizza Hutt sebagai oleh2. Sekarang bukan hanya Mac Donald’s, KFC, dan Pizza Hutt saja yang telah membuka cabang di Palembang, tetapi juga J.Co Donuts, Krispy Kreme, Star Bucks dlsb. Namun dengan tingkat rata2 pengeluaran perkapita di Palembang yang jauh lebih rendah dari Jakarta apakah franchise2 ini, terutama franchise tertentu yang cukup mahal, bisa bertahan?
• September 2005, bandara baru Sultan Mahmud Badaruddin II diresmikan. Dibandingkan dengan bandara di beberapa kota besar di Indonesia, bandara ini termasuk salah satu yang lebih ‘modern’ dan megah. Sangat disayangkan bahwa bandara yang baru dioperasikan tidak lebih dari 4 tahun (dengan kapasitas tiga ‘gates’ – termasuk international) nampaknya sudah mencapai kapasitasnya. Pada waktu2 sibuk, sebagian penumpang yang menunggu pesawat di gate tidak bisa mendapatkan tempat duduk. Mungkin karena kota Palembang berkembang jauh lebih pesat dari yang diperkirakan? Atau karena bertambah pesatnya jumlah penumpang pesawat udara dalam beberapa tahun belakangan ini?
Poin2 di atas adalah sebagian dari hal2 yang terlintas saat ini. Palembang BOLEH!
Wow… thanks ya Ko

) Dalam pandangan dia, masak sih tempat makan skala internasional makan pakek tangan?? Kalau kita mengatakan McD adalah franchise dari luar yang memang sebenarnya tidak menyediakan nasi (hanya di Indonesia saja yang ada nasi) mungkin tetap tidak dapat diterima oleh dia karena dia merasa McD yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi lokal, dan memang McD dan KFC saya lihat di sana tidak terlalu ramai seperti kota besar lainnya.
Ternyata walaupun di Amrik tetap ngikutin ya
Memang point-point yang disebut tadi adalah point-point signifikan yang terjadi beberapa tahun ini (lima tahun terakhir rasanya).
Mengenai mall dan franchise mari kita lihat lima tahun yang akan datang.
Saya pun merasakan waktu ke Palembang, baru sekali ini saya melihat Pizza Hut selalu available dengan seatnya, bahkan terkadang sepi.
Beda dengan Jakarta atau bahkan Surabaya tempat saya sekarang tinggal, selalu penuh sampai antri.
Apakah disebabkan penduduknya memang tidak terbiasa dengan makanan seperti itu? Saya ingat dulu ada rekan yang protes tidak dikasih sendok waktu makan di Mac Donald, hah… mau tertawa dengarnya karena dia menganggap makan dengan tangan kampungan… tetapi ya bener juga kan
Entah apa yang membuat jadi begitu… hehehehe
Halo Femi,
Saya sudah tidak di Amrik sejak 1990 . . .
Sejak 1990 sudah bekerja di Jakarta. Memang sempat meninggalkan Jakarta lagi tahun 2007, tapi sekarang saya sudah balik di Jakarta. Hal yang tersebut di atas hanya berdasarkan pengamatan beberapa tahun terakhir pada waktu pulang ke Palembang mengunjungi orang tua.
ow… kirain selama ini di amrik loh
thx for the comments, and also thx for allow me posting my link in our school group
Kirain gua di Amrik karena dulu sering posting mengenai Obama?? ha, ha, . . .
For posting in the school group, I believe I am the one who should be thanking you. Becaue of your posting, most people are aware that the group will continously have newer postings . . . , hence that will make people more eager to check out the gorup once they log into FB . . . More traffic will only bring positive impact, such as more visits compared to similar groups . . .
Cheers, Kiang
yupe, i think my blog traffic also increase because of that too
too bad in facebook group, they not give notification if people sending message or posting link. If you do it in fans page they can know it because it’s appear in they own home wall. But it’s ok, seems that the member of our school group are used to checked the group. Hopefully the group will be stay longer
I think the notification in FB can be set the the individuals whether or not one wants to get the notification for certain ‘activities’ posted on their profile or when the friends are doing something. I chose to disable all the notification, otherwise, my gmail inbox would have been overflown by the notification emails.
It is amazing how you managed your time by writing so much on your blogs on daily basis . . . ? Seems like you have so much energy!
hahaha… i don’t plan my blog on daily basis. maybe if I have many things to write, I will try to finish it. I’m quite a fast writer, means if I just write about my experiences just need about two or three hours (while I’m finishing home job and the business). If I have to do some research it will be longer. So it depend to the topic actually
And to revise your sentence, I don’t have much energy… but I have so much idle time
while waiting for the orders, so I waste it by writing, so it become a therapy to train my brain (biar gak jadi oon kebanyakan nganggur hehehehe…)
[...] saya menggunakan foto dari beliau pada tulisan saya yang di sini. Kali ini saya terpesona dengan makna tersirat dari foto satwa yang beliau hasilkan. Foto yang [...]
[...] saya menggunakan foto dari beliau pada tulisan saya yang di sini. Kali ini saya terpesona dengan makna tersirat dari foto satwa yang beliau hasilkan. Foto yang [...]