Jalan Tuhan Bukan Jalanku 3 : Mengapa Aku Berdoa (Mitos Doa)

Dimuat di Majalah Kuasa Doa edisi bulan November 2009

Inilah jalan-Nya, jalan Tuhan bukan jalanku.

Tenggelam dalam keterpurukan.  Bingung terhadap kehendak-Nya yang semakin tak kumengerti.  Seakan aku berteriak pun Ia belum mendengar.

Benarkah Ia tidak mendengar??  Rasanya tidak mungkin jika ini pekerjaan Tuhan.

Ia yang mengatakan, “Jangan sekali-sekali mengatakan pencobaan itu dari Tuhan”

Manusialah yang menyebabkan dirinya dicobai, Ia mengizinkan dan membiarkan cobaan dan ujian terjadi tetapi bukan berarti itu adalah karya-Nya.

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.  Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. (Yak 1:13-15)

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (I Kor 10:13)

Jangan pernah mengartikan ayat di atas tersebut sebagai tanda Allah mencobai manusia.  Tidak pernah Ia yang begitu kasih demikian adanya.  Dan itu bukan perkataan Allah, ini tulisan Santo Paulus yang menjelaskan, jika kita dibiarkan jatuh dalam pencobaan, sebenarnya Ia hanya mengizinkan dan mengetahui bahwa ini sebatas kekuatan yang dapat kita hadapi.  Karena apa??  Karena Ia menyertai aku yang dicobai, bukan Ia yang memberi pencobaan dan kemudian Ia juga yang menyelesaikan… hmmmm Tuhan tidak segila itu jelas!

Tidak mungkin secara kebetulan hal ini dan itu terjadi menghalangi semua pandangan dan berkat-Nya yang melimpah.  Di saat aku merasakan Ia membuka jalan, masih ada berbagai bebatuan atau tabir yang ada saja menghampiri.  Ada saja yang membentur, entah si ini yang tiba-tiba begini, si itu yang tiba-tiba begitu, jalanan yang tiba-tiba begini, kondisi yang tiba-tiba begitu.  Proseskah itu???

Bisa jadi itu proses, tetapi benarkah semua itu proses?  Ternyata tidak!  Ada satu yang terlewatkan sehingga proses itu terus menjadi proses dan tidak berujung.

Akhirnya Ia menegurku, membuat aku melihat, apa yang selama ini belum aku buat sungguh-sungguh, belum kepahami sungguh-sungguh, belum aku yakini sungguh-sungguh.  Aku mungkin tidak dan bukan orang jahat, aku bukanlah orang yang tidak bersyukur kepada Tuhan dan menyangkal Tuhan, tetapi itu BELUM CUKUP untuk menurunkan berkat-berkat-Nya kepadaku yang aku harapkan selama ini. Hati nuraniku akhirnya mencoba untuk lebih mengerti apa yang belum cukup itu, dan akhirnya dibukakan petunjuk sederhana… ya sederhana tetapi memang belum cukup kulakukan, yaitu BERDOA.

Aku sangat bersyukur dalam tahun ini banyak pengalaman yang boleh dikatakan bersifat spiritual dalam aku alami.  Aku bukanlah orang yang peka dalam hal seperti itu, tetapi dapat belajar bersama Tuhan langsung selama beberapa bulan terakhir ini betul-betul sangat membuatku bersukacita.  Dan tiba saatnya aku ditegur untuk hal yang ingin aku tuliskan di sini.  Satu kesaksian yang semoga dapat membawa manfaat dan menyemangati.

Dorongan untuk belajar taat berdoa itu semakin menjadi-jadi.

“Aduh… apakah aku harus memang duduk diam lama-lama demi menyibakkan solusi dari masalahku??”

Pertanyaan itu selalu muncul untuk minta excuse kepada Tuhan.  Aku memang berdoa, tetapi terus terang aku memang bukan pendoa yang baik.  Ternyata aku dikuasai oleh MITOS DOA, mitos bukan kebenaran.

Selama ini yang aku pikirkan dari sebuah doa adalah bentuk komunikasi kepada Tuhan, tanda permohonan dan ucapan syukur.  Dan lucunya bukan aku saja yang mengalami hal ini. Banyak yang sepemahaman dengan aku (yang salah) ini, yaitu mitos-mitos yang menganggap bahwa :

  • Tuhan sudah tahu segala hal, doa lama-lama malah jadi bertele-tele dan menganggap Tuhan tidak tahu atau meremehkan Tuhan.
  • Bicara dengan Tuhan tidak perlu melalui doa terus, bisa dalam bentuk lain.  Termasuk aku yang sedang menulis dan lagi diam tapi tidak memejamkan mata pun dapat berseru kepada Tuhan.  Tuhan beserta kita di mana-mana walaupun kita kadang lupa berdoa.
  • Doa salah satu karunia yang belum tentu dimiliki banyak orang.  Ada pendoa yang hebat tetapi aku bukan di antaranya, jadi tidak perlu ngotot doa, yang ada malah jatuh tertidur.
  • Walaupun tahu doa itu berkuasa, tetapi bukankah semua tergantung kehendak-Nya.  Doa menjadi satu bentuk kepasrahan, penyerahan diri, jadi ya cenderung terima kondisi aja, toh semua diatur oleh yang di Atas, kita berusaha dan berdoa semaksimal kita bisa.
  • Doa dalam Roh… hmmmm… ini lagi… banyak yang masih membingungkan di sini.

Hmmmm… apakah ada yang salah dari mitos itu?  Mengapa aku akhirnya menyebutkan itu adalah mitos??  Karena itu pemahaman cetek tentang doaPemahaman orang yang malas berdoa dan akhirnya membuat satu asumsi bahwa TUHAN tahu segalanya, buat apa harus menjadi letih dan ketagihan berdoa. Terjadilah mitos yang saya sebutkan di atas, dan itu adalah mitos dari orang yang belum merasakan bahwa KUASA DOA itu betul-betul ada dan bukan SEKADAR KOMUNIKASI!

Semua berawal dari dorongan doa yang semakin menjadi-jadi.  Akhirnya saya mengambil keputusan seperti Santo Petrus yang nekat berjalan di atas air, menjala ikan tatkala jam memancing ikan sudah lewat, nurut saja.  Nurut disertai dengan yakin.  Saya mohon kepada Tuhan dalam sisa-sisa tenaga yang saya masih miliki untuk mencari apa yang menghalangi semua maksud Tuhan kepada hidupku, agar Tuhan memberikan satu alasan, mengapa aku harus belajar taat dan disiplin berdoa.

Hari pertama dan kedua masih belum merasakan apa-apa.  Tetapi aku sudah mulai merasakan hal yang berbeda dibandingkan saat teduh dan doa-doa sebelumnya yang kulakukan dulu-dulu.  Kali ini ada rasa kerinduan yang hebat, aku bisa bolak-balik kitab-Nya untuk mencari penghiburan, dan jawaban. Semua ditunjukkan dengan mudahnya, padahal aku tidak punya buku panduan saat teduh. Aku hanya  meminta penunjukkan dari Yang Di Atas.  Hari kedua sudah membuat aku ‘ketagihan’ untuk kembali meneruskan disiplin berdoa… dan bukan doa yang hanya 5 menit lalu tidur.  Tetapi aku bisa berlama-lama, meditasi, doa novena, doa rosario.  Ada nikmat tetapi belum merasakan apa yang membuat aku harus terus berdoa begini.

Hari ketiga, saat itu aku duduk seperti biasa.  Ada yang luar biasa menggentarkan jiwa dan raga.  Setelah memejamkan mata dan mendaraskan doa-doa, anehnya setiap memejamkan mata selalu yang terlihat makhluk-makhluk yang berseliweran di depan mata.  Mereka tidak mengganggu, walaupun ada yang seram, tapi ada juga yang menghampiri tetapi dalam tawa.  Dulu mungkin aku juga pernah merasakan ini, tetapi tidak aku gubris atau malah aku tinggalkan dan tinggal tidur saja.  Kali ini tidak… aku sudah berniat belajar, dan tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam doaku.  Seliweran itu semakin hebat, menyebabkan aku yang pertama tidak takut, dan merasa tidak peka dalam hal seperti ini akhirnya gemeteran juga.

“Wow… kenapa ini Tuhan??”

Aku bertanya dan aku percaya darah-Nya yang menyelubungi aku tidak akan membuat aku terjatuh atau harus kesurupan segala.  Aku merasa apa yang sudah kulihat itu tidak akan mengganggu aku. Mereka tidak akan membuat aku mati, tapi aku betul-betul tidak nyaman.  Aku gemetar dan bertanya, apa maksud Tuhan dari semua itu.  Mengapa aku harus merasakan hal ini, dan Tuhan sungguh baik adanya, barulah kusadari kedegilanku selama ini, barulah kusadari mengapa dikumandangkan doa-doa setiap hari, doa semalam suntuk, doa subuh, sholat lima waktu, doa rosario, doa dalam kuil yang didengungkan setiap saat…

“Inilah yang kau lawan dalam doa, Femi!  Penguasa jahat di udara yang sudah menyelubungi semua berkat-KU untuk turun ke atasmu!  Kamu minta, kamu mengucap syukur, tetapi ada yang kurang… kamu tidak bersama-Ku dan orang-orang Kudus untuk melawan kuasa-kuasa jahat yang tidak senang jika kamu menerima berkat-Ku.  Semakin kau tunduk dan taat berdoa, kuasa itu akan semakin takut, semakin hilang…  Saat kuasa dan roh jahat itu hilang dari kamu dan pikiranmu,  kamu akan merasakan kelimpahan dan berkat itu turun langsung ke dalam hidupmu”

Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. … dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, (Efesus 6 : 12-18, tidak saya kutip semuanya)

Satu pengalaman luar biasa yang menyentakkan saya.  Sungguh aku ditegur dan bersyukur.  Ternyata selama ini betul mitos doa itu membuat aku jatuh dalam pencobaan (ingat pencobaan itu bukan dari Tuhan, dari diriku sendirilah yang memicunya dan penguasa jahat yang entah nama kerennya iblis atau setan yang memperoleh kesempatan dari semuanya) yang akhirnya membuat aku merasa doa itu hanya sebagai formalitas dan hanya berharap, memohon, mengucap syukur, dan merasa bahwa doa itu sekadar komunikasi (bahkan komunikasi dua arah!).  Pandangan itu langsung dipatahkan saat itu juga dan ditunjukkan bahwa doa yang berkumandang itu selain bicara kepada Tuhan tetapi juga terlebih sangat perlu untuk mengusir semua roh-roh jahat yang sirik karena hubunganku dengan Tuhan yang semakin erat. Mereka semakin mencobai dan menguji sampai mana kesabaranku, dan bodohnya aku selalu merasa harus mengatasi ini sendirian ! Padahal Ia sudah menunjukkan dalam firman-Nya bahwa dalam DOA lah aku bisa melawan semua kuasa jahat itu bersama Tuhan, bersama malaikat-malaikat-Nya.

Kuasa jahat itulah yang selama ini menganggu  dengan roh patah semangat, roh sakit, roh malas, roh tidak bermotivasi, dan semua roh kenegatifan yang membuat aku harus marah, atau memaki-maki.  Roh kekelaman itu yang menyelubungi tingkap langit berkat untuk turun deras. Semua itulah yang harus diperangi dalam DOA.  Kita melawan roh maka Ia juga berkata agar kita berdoa DALAM ROH.  Roh Allah pun ikut berdoa bersama kita untuk hal ini.

Berawal dari pengalaman ini akhirnya membuat aku semakin ingin mengerti lebih jauh.  Saya mencoba untuk mencari ayat-ayat yang menguatkan dan mengamini semua pengalaman yang ada, ayat-ayat yang sebenarnya dari dulu sudah kubaca tetapi tidak kupahami detil karena tidak pernah kulaksanakan.  Semua akhirnya menjadi HIDUP, firman yang HIDUP karena aku mau taat berdoa. Doalah yang membuat aku melawan semua selubung kegelapan mata dan pikiran terhadap kebenaran, keajaiban dan mujizat Tuhan.

Berarti selama ini juga doa yang aku lakukan juga salah, dan tidak ada faedahnya seperti ayat di Yakobus 4:3 (Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.)

Kesalahanku antara lain :

  • Tidak serius, hanya menjadikan doa sebagai salam pembuka dan penutup hari.
  • Makna doa sebatas ucapan syukur dan memohon dan mau menerima kehendak-Nya yang terjadi, tetapi tidak pernah mau bertanya dan mencari kehendak-Nya.  Hanya menerima saja tidak cukup karena salah-salah memang kita malah memang tidak mau terima apa rencana-Nya, pasrah tapi tidak ikhlas, akhirnya hasilnya memang tidak ada.
  • Tidak tulus dan kudus, ada dosa yang belum kita akui, tidak mohon ampun.  Dosa dan roh jahat inilah yang menghalangi.  Tidak mematikan dan mendatangkan maut tetapi sangat mengganggu dan akhirnya juga membuat kita jauh dari Tuhan dan akhirnya tidak percaya kepada-Nya dan akhirnya menjadi maut.

Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.( Markus 11:25)

Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa. Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut….Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. (I Yoh 5: 16-19, tidak saya kutip seluruhnya)

  • Meremehkan dan tidak berjaga-jaga dalam doa terhadap pencobaan, akhirnya walaupun sudah berdoa tidak ada hasilnya karena kita masih membiarkan diri jatuh dalam pencobaan. Membiarkan roh-roh tidak taat itu mengelilingi.  Membuat hari-hari kita kering, dihiasi amarah, ketidaksabaran, kebencian, kemalasan, keminderan, kekhawatiran, ketakutan yang berasal dari kita maupun dari sekeliling kita yang mempengaruhi kita.  Kita menganggap remeh ataupun seperti saya tidak sadar bahwa doa itu dapat mengusir semua hal ini yang justru menghalangi semua karya Allah dalam keseharian.  Inilah yang justru menjadi perang kita sehari-hari. Kita mungkin tidak berbuat jahat kepada orang, tetapi kita tidak menyadari bahwa kitalah yang menjadi sasaran kejahatan dari iblis yang mengintai dan ini harus dan hanya doa yang dapat membasmi bahkan beberapa hal harus disertai puasa.
  • Menambahkan point pencobaan dan roh-roh jahat yang senantiasa merusak hari-hari kita, kita tidak meminta Tuhan untuk terlibat dalam membuang semua itu.  Kita dengan congkaknya memerangi sendiri semua hawa nafsu kita, padahal hal itu tidak akan pernah bisa kita perangi seorang diri.  Dalam doa yang sebentar pun mungkin kita sudah mengucapkan kata Amin terlebih dulu, padahal Ia menunggu kita memohon agar kita terlepas dari pencobaan dan melepaskan kita dari yang jahat.  Bahkan Ia siap bekerja memerangi semua, tetapi kita yang terlebih dahulu membatasi semua dengan roh sok tau kita, roh malas untuk bersaat teduh dan berdoa terus menerus untuk semakin menghilangkan pengaruh kuasa-kuasa jahat, dan roh keputusasaan kita.
  • Bila ada program saling mendoakan atau doa bersama terkadang menjadi semacam tenggang rasa saja, bukan kebutuhan.  Padahal doa bersama sangat besar kuasanya, kembali karena kita bersama memerangi si jahat, bukan sekadar meminta tetapi melihat esensi bahwa semakin banyak anggota berdoa, semakin sering kita berdoa, semua kuasa jahat yang tidak menyukai jika kita mendapat jawaban dari doa akan hilang. Dulu saya masih merasa dapat menyimpan sendiri pokok doa saya. Saya malah bingung kalau didoakan bersama, rasanya kok masalah saya jadi terbuka begitu saja. Ternyata ya itu tadi…, bersama-sama (termasuk bersama orang Kudus) memerangi penguasa di udara yang menghalangi doa dan berkat akibat kita jatuh dalam godaan mereka.

Saya kembali diarahkan bagaimana Tuhan mengajarkan kita berdoa dengan “Doa Bapa Kami”, itulah doa yang sudah tidak salah lagi, disusun oleh Sang Pencipta, lengkap dengan segala tujuan yang saya sebut di atas. Dari memuji Dia, mengucap syukur, menjadikan kehendak-Nya terjadi atas kita, memohon berkat, minta ampun atas dosa yang menghalangi berkat, dan meminta Tuhan jangan mengizinkan pencobaan dan melepaskan semua kuasa jahat yang menghalangi keseharian dan mengintai kita selalu. Dan ternyata saya tidak menerapkan semuanya sehingga semua terasa hampa.  BELUM LENGKAP, betul itu kata Tuhan.

Saya akhirnya dapat merasakan kerinduan dan ketagihan akan doa, dan saya bersyukur karena itu.  Satu hal yang menurut saya tidak mungkin dapat saya lakukan, dan kini saya semakin jatuh cinta kepada-Nya. Semakin dalam dan mau bersekutu dengan khusus dengan-Nya.  Saya merasakan ada yang kurang jika tidak berdoa dalam arti benar-benar merasa kurang, karena saya tahu banyak hal-hal yang tidak baik yang belum saya lepaskan dan usir dalam nama-Nya jika tidak berdoa.

Jalan-Nya memang bukan jalanku, jika aku mengikuti langkah-Nya, akan semakin diintai oleh kuasa yang tidak menyukai hubunganku dengan Allah.  Saya sempat berguyon dengan salah seorang teman tatkala saya bersaksi tentang hal ini dan mengatakan,

“Iya ya… kalau kita lagi dekat-dekatnya ke Tuhan adaaa sajaaa… yang terkesan menghalangi.  Kalau yang tidak dekat dengan Tuhan, justru tidak merasa diganggu, tidak merasa dicobai yang aneh-aneh. Ya, karena iblis senang-senang saja bila melihat orang jauh dari-Nya, semakin dibiarkan saja menikmati jauhnya hadirat Allah dalam hidupnya.  Makanya banyak yang tidak takut Tuhan dalam hidupnya terasa fine-fine saja. Sebenarnya juga bukan fine, tapi memang dibiarkan seperti itu oleh penguasa dunia agar tetap tidak kenal Tuhan dan tidak beroleh selamat.  Mau pilih yang mana??”

Entahlah walaupun banyak rintangan, saya tetap ingin mengenal-Nya, dan mengisahkan tentang diri-Nya.  Hal ini sulit, kendalanya banyak… Selain dari orang lain, termasuk dari diri sendiri.  Termasuk kala saya hendak menuliskan pengalaman ini pun saya sampai perlu berdoa khusus denga mengatakan,

“Pergilah roh kemalasan!  Tolong Tuhan hancurkan roh kemalasan itu.” Karena betul, saya seketika itu menjadi malas menguraikan kuasa doa itu, bahkan menjadi malas untuk memulai menuliskannya . Saya jadi merasa ada ada yang salah… Seperti saat kita ingin melakukan sesuatu, eh… ada saja kejadian yang tidak biasa terjadi dan ngerecokin, menjadi tidak lancar… Saat itulah kita seharusnya menyelidiki dalam doa, apa yang terjadi.  Dan jika kita taat, serta berserah melakukan apa yang sudah dirumuskan-Nya, atas kehendak-Nyalah semua akan terjadi dan membuat kita kembali bersukacita.

Indahnya jika saat memulai dan menutup hari bukan hanya sekadar mengatakan selamat pagi dan selamat malam kepada-Nya. Tetapi bersama-Nya memerangi semua hal yang tidak baik, yang membuat kita tidak bisa KUDUS dan TAAT pada-Nya sepenuh hati. Bahkan dalam tidur kita, Ia tidak akan berhenti berperang untuk kita karena memang hari-hari inilah adalah hari yang jahat.

15 Responses

  1. Panjangggggg.. :)
    Tapi menarik.. baca dulu ah..!

    • hehehehe duh sampe bikin laporan panjang :D
      makasih ya mau baca, comment selanjutnya ditunggu… :)

  2. Bagus, untuk menguatkan orang2 yg akhir2 ini
    bilang malas berdoa,
    malas bicara2 sama Tuhan,
    Tuhan tau koq apa yg diinginkan hati . . .hehehe

    • weks… ya itu dulu aku gitu ya hehehehee…
      rasanya itu kesombongan tersembunyi yang menganggap Tuhan sudah tahu diri kita kok, jadi ngapain susah2 hehehehe…
      padahal ada makna dan kuasa lain yang kita dapet dari itu…
      thx juga ci for share

  3. Terpujilah Tuhan yang memberikanmu semangat untuk belajar..juga memberikan pewahyuan langsung untuk memahami yang terselubung.

    “segala hal pahit yang DIA izinkan untuk kita rasakan..selalu bertujuan agar kita menikmati semua yang manis dalam segala kepanuhanNYA”

    Dan aku pribadi yakin ketika TUHAN memenangkan kita dalam peperangan rohani kita, bukan hanya masalah kita yang selesai tuntas..tapi cinta kita kepadaNYA akan terus bertambah.

    Tetap semangat, Tuhan Memberkatimu!

    • thanks Ris…
      yang terpenting dari ini semua bikin aku sadar bahwa memang betul hidup di dunia ini musuhnya bukan orang lain, bukan Tuhan, tapi diri kita dan roh daging kita sendiri yang harus dihilangkan, hanya dengan doa dan berserah dan meminta Ia berperang lawan ‘musuh’ kita dan itulah yang buat kita HARUS tergantung dengan DIA terus-terusan, selalu melekat pada POKOK ANGGUR yang benar. Amin
      GBU

  4. di dalam ziarah hidupnya bersama Tuhan, naik turun lembah dan mendaki menuruni gunung…semua dapat dilalui, bila selalu berpegang pada tanganNya Sebab pada Dia masa depan kita,…..aku merasa dikuatkan dengan cerita ini, Fem. Ada saatnya kita merasa “kering”…tapi biarlah saat kering itu adalah saat kita menyiapkan hati baru untuk ditabur oleh berkat dan hikmat Tuhan….terima kasih…beautiful…

  5. Thx uda di ingatin lagi soal berdoa. Apalagi belakangan ini, biar tiap malam ngajar anak2 berdoa sebelum tidur, tapi mamanya sendiri jarang saat teduh. So, thx once again….Gbu

  6. Terima kasih buat remindernya mbak Femi
    Ini hal yang menjadi duri dalam daging selama ini buat saya, dan mitos2 yang mbak tulis itu semua sama persis dengan yang saya alami – saya yakin bukan kebetulan saya bisa menemukan entry ini, mungkin inilah jawaban “kenapa harus berdoa?” yang selalu saya cari2. Saya bookmark ah, biar sewaktu2 bisa saya baca lagi, dan ‘dikuatkan’ lagi.
    GBU mbak :)

  7. duenk….baca artikel yg ini,hanya terdiam dan mikir :’( thank u for sharing mbak fem

  8. Jalan Tuhan memang sulit untuk dimengerti, tetapi selalu baik bagi kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.