Pernyataan : Menjadi Babu Sejenak

Ada yang mengganggu saya ketika libur Idul Fitri lalu.

Terus terang kalau tidak ada facebook, mungkin saya juga tidak akan meneliti lebih jauh perasaan yang rada gak enakin di hati itu.

Mungkin, ini hanya penilaian yang subjektif dari diri saya sendiri.  Entah kalau ada teman yang pro atau pun kontra, saya juga tidak berkeberatan, karena masing-masing memiliki pendapat.

Begini, kala libur lebaran lalu, ternyata saya melihat banyak juga yang mengeluh tentang kepulangan asisten rumah tangga mereka. Hampir semua tuan rumah mengungkapkan perasaan mereka yang mirip-mirip di facebook, yang intinya berisikan status mereka di-downgrade ke tingkat PRT, Inem, baby sitter, dan semacamnya.

Jujur, saya rada gimanaaa gitu kalau baca tulisan seperti itu.

Mungkin itu bukan tanda keluhan dari sang pemilik rumah.  Tidak ada salahnya juga kita merasa capek, letih, akibat melakukan tugas yang tidak biasa mereka buat.  Tetapi, apakah perlu sampai mengatakan secara ekstrim jika kedudukan saat itu ‘menjadi babu sejenak’?  Rasanya kok aneh aja…

Saya jadi mikir, bagaimana dengan mereka yang terbiasa tidak memiliki pembantu di rumah?  Secara tidak langsung istilah ‘menjadi babu sejenak’ itu seakan menyatakan tugas rumah tangga yang biasa dilakukan ibu rumah tangga biasa sederajat dengan pekerjaan pembantu.  Itu yang saya tangkap, dan saya jadi kasihan dengan teman-teman yang berjuang hidup tanpa harus memiliki pembokat.

Tatkala banyak rekan-rekan yang mengatakan (di media apa pun)

“Jadi baby sitter nih sementara,”

Dalam hati saya terus terang agak miris, dan mengatakan,

“Duh…, itu kan anak sendiri?  Kok pakai istilah jadi baby sitter sih?  Bukannya malah senang kalau bisa kumpul sama anak terus ngajarin tanpa ada intervensi dari baby sitter?”

Soalnya saya sendiri suka merasa ingin mengasuh anak sendiri tanpa pengasuh tetapi situasi tidak memungkinkan, sehingga bila ada kesempatan libur, saya malah enjoy ‘tuh direpotkan dengan segala macam urusan tetek bengek anak, sekaligus membuang segala kontaminasi yang ada di pikiran anak akibat bawaan dari baby sitter.

Entah, apakah kita menjadi terlalu diracuni dengan kesibukan sehingga menganggap urusan rumah pun bukan pekerjaan yang berarti.  Entah, apakah karena ingin menghindari kelelahan, ingin istirahat sehingga kita seakan kesal harus terus menguntit anak tinimbang perasaan senang karena bisa full time untuk anak?  Padahal kesempatan itu hanya datang satu atau dua tahun sekali.  Waktu istirahat pun masih kita dapatkan di saat weekend, di mana PRT dan baby sitter tidak memiliki istilah weekend dalam pekerjaannya.

Yaaa… buat saya rada janggal saja kalau sampai harus seperti itu.  Kembali saya merasa tidak enak saja dengan keluarga yang tidak memiliki PRT atau baby sitter.  Bagi saya mereka memang mengerjakan tugas yang mereka miliki tanpa harus merasa seperti pembantu.  Jadi rasanya tidak perlulah sampai menggunakan isilah men-downgrade diri menjadi PRT atau baby sitter kalau sedang menggantikan PRT atau baby sitter kita yang sedang mengambil nafas untuk tidur siang, makan, mandi.  Hal itu jadi terkesan tidak adil buat kita sendiri sebenarnya, karena seakan-akan ‘mengurus rumah dan anak sendiri saja kesannya kok gak rela…’

Mungkin yang saya ungkapkan terkesan ekstrim atau berlebihan buat beberapa orang.  Mudah-mudahan yang saya rasakan memang salah.  Moga-moga saja ungkapan pernyataan ‘jadi babu’, ‘jadi baby sitter’ hanya merupakan umbaran pelampiasan berupa kata-kata yang tidak ada artinya sama sekali, dengan kata lain, ya asal ceplos saja.  Tetapi kembali saya berpikir, bukankah kata-kata itu terlontarkan bila ada reaksi hati atau otak yang bergejolak?  Jadi… gejolak hati bagaimana yang tercermin dari ungkapan yang dianggap asal ceplos tadi?  Mungkin ada yang mau berpendapat?

17 Responses

  1. Halou..aku justru sependapat ama fekhi…aku juga tipe yang enjoy kalau bisa ngurus n ngerjain urusan anak dan dapur. Kalau di rumahku kondisinya ada pembantu 1 orang yang pulang hari, dan waktu libur memang tidak datang. Aku sih enjoy aja ngerjainnya, toh anak juga libur sekolah jadi ga terlalu sibuk anter jemput.. hanya saja karena aku serumah dengan mertua…( nah ini ) yang kadang membuat tidak enak ketika ada tugas yang biasanya dikerjakan oleh pembantu, dan aku nawarin bantuan mertua menolak, mungkin karena risih atau bagaimana, jadinya mereka memilih untuk mengerjakan sendiri, dan aku jadi ga enak karena merasa tidak berguna. Akhirnya malah jadi kaku juga situasinya. Tapi secara keseluruhan aku sih setuju ama fekhi, ga usah merasa terbebani dengan pekerjaan prt.

    • Terima kasih Clementina (atau Dewi?)
      Senang kalau ada yang merasa tidak terbebani dengan urusan rumah tangga :)
      Salam kenal yaaa :)

  2. Hai Fem … honestly aku gag pernah kepikiran spt itu seblm baca tuisan kamu ;) . But in one point, you’re damn right !!!

    But at the other point, aku termasuk yg nulis status kayak gitu, tapi justru karena aku excited, apakah aku akan sukses / gagal membuat keluargaku tetap nyaman sama seperti ketika PRT ada.

    Sedih, ketika ternyata stamina ku gag mendukung n my fam terpaksa makan di resto ;(

    Senang, ketika anak2 bilang ‘thanks mum’ sambil senyum n cium pipiku waktu buku2nya aku beresin

    Senang, ketika suami nyuci baju, aku masak; dia nyapu kebun, aku ngepel …..

    I thank the Lord, that I was given such chance to serve my family, even for only a week ;)

    So maybe we should see those status’ from many sides.
    Nggak semua menulis status itu untuk mengeluh …..

    contohnya akuw …… ;) hehehe …..

    Hv a nice day Fem ;D

    • Nah, makanya akhir alinea aku bertanya, apakah memang semua yang mengungkapkan itu hanya asal ceplos, atau memang ada situasi yang lain di hati hehehe…

      Senang sekali kalau anak-anak kita merasa enjoy ya…

      Aku terus terang terganggu mungkin karena buuuanyaaakkk membaca pernyataan itu kali ya hehehe… Gak di fb, di tivi, macam-macam deh, makanya sampe nyeletuk dalam diriku sendiri,
      “Masak sih ngerjain kayak gitu ngomongin diri sendiri pembantu?”
      Jadinya lebay gitu aja kesannya :D

      Dalam batinku sih yakin tidak semua yang bilang begitu merasa mengeluh memang, tapi efeknya kok rasanya kurang adil aja sepertinya, khususnya dengan mereka yang memang tidak biasa pakai pembantu, atau ke PRT itu sendiri yang kesannya kita tergantung banget sama mereka.
      Makasih ya Mbak Intan :)

  3. [...] terpikir mau nulis. Keliling-keliling dulu, malamnya sakit kepala. Eehh… keburu Femi nulis di blognya soal yang sama. Kena getaran yang sama? Gak tau [...]

  4. Entah mungkin pikiranku terlalu jauh, tapi pada kenyataannya masyarakat kita terlalu sering membuat satu istilah baru untuk memudahkan segalanya.

    Sebelum merk Kodak keluar, semua kamera tidak disebut kodak.
    Sebelum Pepsodent keluar, pasta gigi tidak disebut Pepsodent :)
    Sebelum merk Levis keluar, semua jeans tidak disebut lepis (meski Levis termasuk brand2 awal yang muncul untuk jeans).

    So, sebelum dulu orang punya pembantu dan baby sitter, pasti tak ada istilah “menjadi pembantu sementara” atau “menjadi baby sitter sementara” :) )

    Semoga kamu paham komentarku ini :)

  5. Sebetulnya enak kalau pembantu ga ada,
    asal bisa menerima aja, kalau lagi malas ya
    lantai ga usah di pel atau kalau ngepel juga
    ditempat tertentu aja.

    Kalau mbak Un pulang kelamaan kangen mbak uuuunnnn . . . . . . ga ada lg yg ceritain aku sinetron bersambung itu, ga ada lg yg memberi berita kabar kabari para celeb . . .
    ga ada lg yg ngingetin klo makan jgn banyak2 . . . hiks

    • hihihi…
      iya ci grace, aku juga gitu. kalo prt pulang ya terima aja kondisi rumah. ngepel seperlunya hehehe…

      Iya kalau udah lama, prt itu sudah kayak teman. kalo ci grace mau diingetin biar makan jng banyak-banyak ntar aku ingetin deh hehehehe…

  6. @ Intan: asli, waktu gw nulis itu – yg tnyata gelombangnya samaan ama Femi – ga kepikir sama temen2 yg ketergantungan ama PRT
    yg kepikir ya tetangga ato orang yg gw ga kenal baik termasuk para ibu2 di sekolah yg kena panic attack.

    well,
    tapi ada bagusnya juga kan klo ibu2 model Intan upgrade jadi ratu rumah tangga?

    thx to Femi yg udah posting duluan jadi gw inget utk nulis :D

    • hihihi…
      untung bukan barengan kena gelombang arus mudik dan arus balik, karena kita sama-sama gak mudik wkwkwkwk

  7. Libur kemarin aku gak jadi babu, jg ga jadi baby sitter. Aku jadi perawat..karena suami dan anakku bergantian jatuh sakit :( . Tapi aku sungguh menikmati itu sebagai bentuk ucapan syukur atas kesempatan untuk melayani orang-orang yg gw cintai.

    • duh… kasihan :(
      Tapi bagaimana pun memang itulah tugas kita dalam rumah tangga ya, saling merawat :D

  8. Ada teman yg nanya ke aku, kok ga pke pembantu? aku jawab, ga butuh2 amat, masih bisa kerja sendiri kok. trus dia bilang, oh iya, aku pke pembantu karena ada si kecil. Aku maklum aja dengan alasan itu, mgk dia mmg ngerasa keteteran. Lagi aku belum punya si kecil, jd gak bisa sok tahu bahwa pasti bisa hidup tanpa pembantu. Tapi aku masih berpkr kalo suatu hari nanti punya si kecil, aku mau coba tanpa pembantu dulu. Lagi kan ada suami yg suka ngebantu pekerjaan2 rumah yg kecil. Dia jg gak merasa keberatan kok. Sampe skrg, aku masih gak berpkr bahwa mengerjakan pekerjaan rumah itu adalah pekerjaan yang hina. Malah menurutku pekerjaan rumah itu menyenangkan bila dilakukan dengan ikhlas dan sebenarnya sangat mulia karena kita bekerja atas dasar kerelaan n cinta. So, dengan komentar yg sudah kepanjangan ini…hehehe… aku setuju banget dgn dirimu, Fem :-D

    • Kalau ada anak, si ibu gak kerja mending gak usah pakek baby sitter. Ntar pajangan baby sitternya hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.