Batik yang Kupakai Setiap Hari

Kapan ya terakhir pakai batik untuk acara formal?

Rasanya sih waktu SD, karena memang ada jadwal hari tertentu yang memang seragamnya batik.

Sejak itu bukan berarti tidak pernah pakai batik.  Justru sering banget!  Daster di rumah semua batik!  Wah, kalau kaum wanita sih tidak usah pakai protes jika mengenakan daster batik di rumah.  Sudah nyaman di kain, model dan motif juga bagus, mau keluar rumah juga tidak malu-maluin.  Walaupun kesannya nyantai, tetapi tetap anggun.

Jangan salah, daster batik sekarang modelnya trendi-trendi loh!  Tidak kalah dengan daster yang bercetakkan gambar-gambar kartun Disney deh.  Saya pun beberapa kali melihat wanita asing yang tinggal di Indonesia mengenakan daster batik di keseharian, berarti memang pakai batik itu sudah umum di Indonesia.

Waktu kecil dulu, ibu saya sering sekali mengajak saya mampir di butik pakaian batik.  Sempat sih bingung kenapa ibu saya demen amat ke sana.  Mungkin karena masih ABG, jadi merasa batik itu hanya identik dengan seragam dan daster itu.  Hmmm… ternyata salah!

Di butik itu yang saya lihat segala macam bentuk pakaian motif batik ada di sana.  Dari gaun pesta, pakaian kerja, jas, baju tidur, sampai baju yang menonjolkan lekuk tubuh pun ada.  Belum lagi asesorisnya berupa dasi, scraft (sekarang orang mengistilahkan dengan slayer), topi, selendang, ikat pinggang.  Ada juga kerajinan bermotif batik, dari tempat tissue, alas piring, alas gelas.  Nuansa etnis tetapi modelnya keren alias tidak ketinggalan mode.

Sejak saat itu saya jadi kagum dengan batik.  Ternyata seni membatik ini memang sangat berciri khas Indonesia dari Sabang sampai Merauke.  Bayangkan di setiap provinsi ada seni batik tersendiri, walaupun yang lebih terkenal adalah motif dari pulau Jawa.  Di daerah saya, Sumatera Selatan motif batik dinamakan jumputan.  Kain jumputan ini dapat digunakan untuk dijadikan pakaian, sarung, selendang, selimut pun bisa.  Kainnya sangat nyaman, lembut!

Jadi wajar bila batik pantas dijadikan pakaian nasional, karena mengusung unsur gabungan budaya tradisional yang tersebar di Indonesia yang memang masing-masing memiliki seni batik.  Bila di daerah Jawa kebanyakan menggunakan batik tulis motif Jawa, maka di Sumatera pun tetap menggunakan batik yang bermotif etnis Sumatera.

Mungkin masih ada beberapa kaum muda rada enggan menggunakan batik, karena terkesan tua.  Buat mereka yang masih berasumsi demikian ya mungkin belum lihat butik batik yang saya ceritakan tadi.  Sejatinya motif ini dapat diterapkan di model busana apa pun.  Bahkan saya pernah melihat fotomodel yang menggunakan batik di sesi pemotretan di majalah remaja yang saya sering baca dulu, wah… terlihat selain trendy tetapi bersahaja.  Seingat saya dulu pada acara final pemilihan Gadis Sampul juga mengenakan batik saat di panggung.  Jadi di tangan perancang busana yang cerdas dapat membuat batik menjadi fashion yang dapat digunakan untuk semua kalangan.

Kembali membahas tatkala saya masih SD, di mana setiap sekolah rasanya ada seragam batik, entah sekarang masih banyak tidak ya?  Memang seharusnya jika UNESCO sudah menetapkan batik adalah kebudayaan asli Indonesia maka sudah sepantasnya juga ditunjukkan kepada dunia dalam keseharian.  Apalagi seperti yang telah saya jabarkan tadi, batik dalam digunakan di mana saja, kegiatan apa saja, acara apa saja, dari formal atau santai, saatnya untuk membuktikan bahwa memang batik itu meresap dalam citra mode pakaian kita.

Saya rasa tidak terlalu berlebihan bila setiap sekolah memiliki hari khusus seragam batik, setiap perkantoran memiliki hari khusus yang mengenakan seragam batik.   Bukankah memang pakaian nasional kita adalah batik?  Jadi tidak salah jika menjadi pakaian yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Jika tidak diterapkan sedemikian rupa, untuk apa kita bersusah payah mengklaim budaya itu sampai harus beradu urat dengan negara tetangga?  Dan yang jelas, saya sudah memulainya dengan daster batik itu tadi.

3 Responses

  1. Hi Fem, aku termasuk satu di antara sedikit yang tak terlalu suka dengan batik. Entah kenapa, sedari dulu aku lebih merasa comfy dengan kemeja biasa atau jas untuk sesuatu yang agak formal.

    Tapi meski demikian, aku tetep bangga dengan pengakuan UNESCO.. finally :)

  2. Aku kalau formal juga jarang banget pakai batik, Don.
    Justru nyantai sering banget, karena kainnya yang adem itu.

    Sebenarnya kalo cowo emang bajunya gitu-gitu aja sih hehehe… Tapi kalau baju cewek ya aku pernah lihat baju motif batik gitu yang modelnya keren-keren. Kalau dipakai juga sudah kebayang bagus. Kalau aku gak beli karena memang lagi gak punya duit aja hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.