Tulisan berikut ini mungkin akan menimbulkan pro dan kontra secara teologis. Mengingat saya adalah seorang awam yang bersyukur karena terus diberikan pelajaran langsung dari Sang Maha Guru, maka saya membuka bagi yang ingin mengkoreksi atau memberikan tambahan tentang topik ini agar tidak salah arah. Walaupun sumber ayat berasal dari Alkitab yang saya yakini sebagai seorang Nasrani, namun saya tetap moggo bagi yang ingin memberikan pendapat sesuai dengan kepercayaan yang dianut. Terima kasih.
Saya tidak pernah merasa takut dengan kematian. Kalaupun ada rasa khawatir, itu terlebih karena pikiran ‘bagaimana saya akan mati’ tinimbang kematian itu sendiri. Tetapi ketika saya dihadapkan dengan pikiran ditinggal mati oleh orang-orang yang saya kasihi, hal itu membuat saya ciut nyali. Hanya membayangkannya saja sudah tidak berani, memikirkannya saya membuat saya sudah ingin menangis ketakutan.
Banyak yang bilang pamali membahas tentang kematian kepada orang yang belum meninggal. Reaksi kata-kata ‘amit-amit jabang bayi’ menjadi perlawanan untuk menutup jalan pemikiran yang dianggap sesat itu. Saya pun awalnya menanggapi dengan mengatakan kepada diri sendiri begini,
“Jangan mikir yang macem-macem!”
Tetapi anehnya, perasaan takut itu selalu mendera. Anehnya semakin saya takut, saya semakin tergelitik untuk mengetahui penyebab ketakutannya. Benak sialan!
Akhirnya saya berdamai dengan diri saya sendiri. Saya mencoba untuk membiarkan insting keberanian merasuki saya untuk menyelidiki bagaimana perasaan saya sesungguhnya bila orang tua saya meninggal, suami saya meninggal, atau anak saya meninggal. Ah tidak!!! Melihat anak saya yang sedang riang-ria bermain sembari membayangkan kehilangan dirinya adalah pikiran gila! Hati saya menjadi tidak tenang. Saya berupaya untuk terus menghilangkan pikiran itu. Tetapi nurani saya terus menantang pikiran agar berusaha menjawab, bagaimana bila saya ditinggal pergi oleh mereka?
Berawal dari keingintahuan saya tentang istilah ketidakmelekatan. Berawal dari observasi saya untuk kisah novel yang sedang saya tulis. Berawal dari beberapa kisah yang saya dengar tentang mereka yang sudah ditinggal yang terkasih dalam hidupnya. Dulu saya bisa cuek, tetapi semakin hari saya semakin terbawa untuk meresapi arti kehilangan. Beberapa kali saya menghindar untuk memahami. Namun semakin saya menghindar dan menyembunyikan perasaan, batin saya semakin tersiksa.
Saya seakan menantang apa yang sudah menjadi norma orang hidup kebanyakan yang tabu membicarakan kematian. Namun justru saya diberi jalan untuk memahami apa yang ingin saya pahami tentang bagaimana perasaan saya bila ditinggal mati. Hal yang aneh, begitu juga yang saya gumamkan dalam benak saya.
Beberapa bulan pikiran itu menghantui. Jujur, saya sendiri bingung maksud dari semua yang ingin dibahas-Nya pada saya sekarang. Akhirnya dengan rendah hati saya akui,
“Saya belum sanggup untuk ditinggal oleh mereka, Tuhan. Rasanya hal itu akan menjadi kepahitan seumur hidup,”
Perlahan-lahan saya semakin menyadari bahwa ketidaksanggupan untuk ditinggal seperti yang saya akui kepada-Nya adalah kunci bagi saya untuk memahami ketidakmelekatan. Pikiran saya semakin terbuka dan mengakui ada yang salah dengan pengakuan saya tersebut. Mulailah saya menyangsikan perasaan saya sendiri,
“Apakah sudah benar bila saya terpuruk dalam kepahitan seumur hidup bila ditinggal orang terkasih?”
“Mengapa saya begitu memproteksi orang-orang terkasih saya seakan-akan mereka tidak boleh sedikit pun lenyap dalam hidup saya?”
Dan saat saya dihadapkan dengan pertanyaan, siapa yang lebih saya kasihi antara Tuhan dan keluarga, pikiran saya beku. Saya tahu, bahwa memilih keduanya adalah hal yang tidak mungkin.
(34) Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. (37) Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. (38) Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. (39) Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (40) Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. (Mat 10:34-40)
Pernyataan Kristus yang sedang saya gumulkan beberapa bulan terakhir ini akhirnya menjadi nyata maknanya. Dulu saya (dan mungkin bagi kebanyakan pemeluk Nasrani) beranggapan bila ayat tersebut sedikit membingungkan dan lebih bermakna simbolik tinimbang secara nyata bahwa Ia membawa pemisahan. Kebanyakan tafsiran yang ada selalu mengarah kepada keberadaan Kristus sebagai Kepala dari sebuah keluarga. Dan saya memang tidak pernah puas untuk memahami ini sampai saatnya Ia membukakan hati saya dengan kegentaran kejadian yang saya kisahkan di atas.
Dalam Alkitab, Yesus sudah jelas selalu memberi petunjuk terlebih dahulu bila ada ayat yang berupa perumpaan ataupun simbolik. Dan di ayat yang saya kutip ini, sama sekali tidak ada peringatan mengenai arti simbolik, perlambang maupun perumpamaan. Kesimpulan singkat, ayat ini benar adanya secara harafiah, jika Yesus membawa pemisahan.
Semakin dekat hubungan dengan Kristus, semakin diuji kadar ketergantungan kita terhadap yang ada di dunia. Semakin rindu untuk mengikuti-Nya, semakin ditunjukkan-Nya bahwa tidak ada yang dapat mengikat saya selain diri-Nya. Demikian pula suami saya, tidak ada yang dapat mengikatnya selain Dia. Anak saya pun demikian, hanya Dialah yang menguasainya. Secara ekstrim, ikatan keluarga di dunia ini diceraiberaikan oleh-Nya sebagai peringatan bahwa kemelekatan dengan apa yang ada di dunia ini tidak memurnikan posisi kita sebagai pengikut-Nya.
Jika dibaca sekilas pemahaman ketidakmelekatan memang seperti sikap fanatik terhadap keyakinan tertentu yang membuat kita seakan-akan tersiksa untuk tidak menikmati hidup di dunia. Tetapi sejatinya memang, apa yang harus dinikmati dalam dunia fana? Tidak ada sama sekali yang dapat dibanggakan dalam ketidakabadian selain kesengsaraannya akibat ketidakberdayaan daging atau tubuh.
Pada awalnya memang sulit bagi saya untuk mengerti makna ketidakmelekatan. Mengingat sungguh berartinya sekeliling saya yang sudah saya bentuk akan lenyap begitu saja, seakan menyadarkan bahwa memupuk cinta terhadap kefanaan sangat menyengsarakan saya di kemudian hari. Jangankan di kemudian hari, membayangkan untuk ditinggal para terkasih pun saya sudah tidak sanggup, apalagi mengalaminya. Hal inilah yang membuat saya secara sadar memalingkan wajah kepada Allah yang mampu memisahkan saya dari perasaan kehilangan. Dia mengajarkan ketidakmelekatan terhadap dunia termasuk segala ikatan yang akan membuat kita mengalami kepahitan.
Jangan salah paham dalam mengerti arti ketidakmelekatan. Ketidakmelekatan bukan berarti kita menjadi manusia yang mengasingkan diri, menyendiri, tidak terikat secara sosial dan cinta. Salah sama sekali! Ketidakmelekatan justru menyempurnakan hukum cinta kasih Allah sejati. Di saat kita hanya terikat kepada Allah saja, kita memiliki kerelaan untuk mengerti atau memahami kehendak-Nya. Di saat kita hanya terikat kepada Allah saja, kita juga paham bahwa Allah juga terlebih cinta kepada orang-orang terkasih kita. Di saat kita paham Superioritas Allah dan hanya bergantung pada-Nya, kita tidak akan mengalami kesedihan stadium lanjut yang berlarut-larut akibat ditinggalkan orang terkasih karena sesungguhnya Dialah yang mengasihi saya dan orang terkasih saya itu, sudah membawa cinta kasih itu ke dimensi keabadian, dimensi roh yang kekal dan bahagia dalam kasih Allah.
Pemisahan dari raga/nyawa yang diajarkan Kristus sesungguhnya adalah prestasi tertinggi bagi kita dalam meraih apa yang disebut HIDUP KEKAL (“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Mat 10:39). Jadi sesungguhnya ketidakmelekatan membuka satu dimensi bahwa kematian fana adalah kehidupan kekal. Tidak ada istilah kematian itu di dalam Kristus. Saya pun tersadarkan selama saya masih terus menganut azas kemelekatan / ketergantungan perasaan saya terhadap kondisi orang terkasih di dunia ini, maka saya akan selalu menentang kenyataan bahwa sejatinya mereka justru hidup dalam keabadian, bukan mati!
Saya mungkin tahu bila orang yang mati dalam Tuhan akan ke surga, tetapi tanpa ketidakmelekatan saya mungkin akan menganggap ini kenyataan pahit seumur hidup. Dengan ketidakmelekatan alias ketidaktergantungan dengan perasaan cinta fana yang diterapkan dalam keluarga atau hidup, saya justru memperoleh pandangan berupa harapan bersatu dalam cinta abadi di dunia baka. Dari pemahaman ini, saya sungguh sangat terhibur. Terlepas dari dogma yang sering digunakan orang untuk menghibur orang yang ditinggalkan para terkasihnya, hal ini lebih sangat menghibur, sungguh!
Adanya istilah hidup dan mati semua akibat dualitas pemikiran manusia yang secara logika mengatakan, bila tidak hidup, ya berarti mati. Padahal dalam Alkitab dikatakan, Kristus hidup, sehingga orang yang percaya pada-Nya TIDAK BINASA. Kemelekatan dengan apa yang tidak abadi itulah yang menyebabkan kita sulit memahami maksud Allah. Kemelekatan dengan kefanaan membuat kita selalu berpandangan dengan cara pikir manusia yang bingung bila melihat orang percaya Allah tetapi mengalami kesedihan serta kesengsaraan. Kita seakan lupa, bahwa Dia yang adalah Agung sejatinya sudah berusaha melepaskan dan memisahkan kita dari kemelekatan yang adalah sumber dari kesengsaraan (yang dipahami dan dibuat manusia itu sendiri). Ketidakmelekatan membawa kita untuk tidak melihat dalam perspektif dunia serta tidak menyalahkan kehendak Allah atau sulit menerima takdir-Nya
Walaupun Yesus Kristus adalah contoh teladan sempurna ketidakmelekatan, saya justru terbantu dengan banyak membaca definisi tentang ketidakmelekatan dari ajaran Budha. Beberapa pernyataan yang saya kutip di bawah ini kiranya sangat membantu untuk kita dalam memahami ketidakmelekatan
Membahas secara mendalam tentang ketidakmelekatan ini sesungguhnya bukan hanya sesuai untuk para anagarini, bhikkhu maupun samanera saja, namun juga cocok untuk para perumahtangga. Sebab, tidak melekat bukan berarti tidak boleh punya pasangan hidup. Tidak melekat itu bukan berarti tidak boleh punya kekayaan. Tidak melekat itu bukan berarti tidak boleh punya rumah, tidak punya mobil, tidak punya pekerjaan yang berhasil. Bukan demikian, bukan. Tidak melekat itu berarti siap menghadapi perubahan pada segala sesuatu yang dimiliki. Menerima perubahan itu sebagai kenyataan. Itulah kunci agar tidak melekat. Apabila sebagai perumah tangga yang mempunyai pasangan hidup, bisa saja dalam proses berjalannya waktu, pasangan hidup yang semula serasi menjadi kurang serasi. Ada beberapa perubahan sifat maupun perilaku yang diketemukan dalam diri pasangan tersebut. Tidak melekat berarti siap menghadapi perubahan. Kalau dahulu pasangan hidup bisa selalu harmonis, sekarang mungkin sering timbul percekcokan di antaranya. Hal ini hendaknya bisa diterima sebagai kenyataan. Menerima perubahan sebagai kenyataan inilah yang disebut sebagai tidak melekat. Tidak menuntut pasangan hidup harus seperti semula. Ia mungkin telah berubah. Demikian pula dengan masalah pekerjaan, kesehatan dlsb. Dahulu mungkin orang itu sehat dan lancar usahanya, namun, karena segalanya bisa berubah, ia kemudian menjadi sering sakit dan mundur usahanya. Namun, apabila seseorang bisa menyadari bahwa memang dalam dunia ini adalah merupakan hal yang wajar apabila ada untung- rugi, sehat-sakit dlsb, maka orang akan siap mental menghadapi perubahan. Menerima perubahan sebagai kenyataan yang tidak bisa ditolak. Inilah makna ketidakmelekatan.
(Sumber : Naskah Dhamma yang dikutip dari grup Facebook Dhamma dalam kehidupan sehari-hari)
Dalam pengertian Buddhis, ‘kemelekatan’ terjadi ketika seseorang tidak memahami atau tidak mampu menerima bahwa segala sesuatu akan berubah dan berproses. Segala yang ia cintai akan berpisah dengannya. Sebaliknya, segala yang ia benci akan datang kepadanya. Seseorang yang tidak memahami ketidakkekalan, timbullah kemelekatan pada cinta dan benci. Ia menjadi sedih dan menderita ketika berpisah dengan segala hal yang ia cintai dan bertemu dengan berbagai hal yang dibenci.
Oleh karena itu, Ajaran Sang Buddha justru menekankan pengertian dan penghayatan adanya perubahan yang terjadi setiap saat. Ia yang telah memahami dasar Ajaran Sang Buddha ini akan hidup berbahagia walaupun berpisah dengan hal yang dicinta dan bertemu dengan hal yang tidak disuka. Ia tetap berbahagia karena ia telah mengerti bahwa inilah kenyataan dan proses kehidupan yang harus dijalaninya.
Inilah makna ketidakmelekatan. Ketika seseorang telah memiliki ketidakmelekatan dalam batin, maka ia justru mampu mengembangkan cinta kasih tanpa batas kepada semua mahluk. Cinta kasih tanpa batas ini telah banyak diuraikan oleh Sang Buddha di berbagai kesempatan. Adapun kualitas cinta kasih tanpa batas diibaratkan seperti seorang ibu yang menyayangi anak tunggalnya. Ia akan rela mengorbankan apapun yang ia miliki demi membahagiakan anak tunggalnya. Apabila seseorang telah terbebas dari kemelekatan, ia dapat mengembangkan cinta kasih tanpa batas ini kepada semua mahluk, bahkan kepada musuhnya sekalipun.(Sumber : Forum tanya jawab http://www.samaggi-phala.or.id)
Kristus yang berinkarnasi sebagai manusia sesungguhnya telah menyatakan ketidakmelekatannya sejak usia dini-Nya
(42) Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. (43) Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. (44) Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. (45) Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. (46) Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. (47) Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. (48) Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” (49) Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (50) Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. (Lukas 2:42-50)
Secara saya yang awam yang diberi jalan untuk memahami tentang ketidakmelekatan memandang ayat tersebut sebagai maksud Kristus yang menegur kecemasan orang tua-Nya akibat merasa kehilangan-Nya. Yesus menjawab dengan lugas bahwa diri-Nya terikat kepada Bapa di Surga, kita pun terikat dengan Bapa di Surga. Dan tatkala kita mengerti ketidakmelekatan, kita dimampukan untuk menerima baik buruknya kenyataan hidup yang mencemaskan ataupun menyakitkan. Ketidakmelekatan itu pula yang memampukan kita menyerahkan segala perasaan kita kepada Tuhan saja yang memberi kekuatan dan memberi pandangan akan perspektif kebahagiaan kekal yang akan kita gapai.
Secara praktik, mungkin sulit untuk menerapkan ketidakmelekatan secara total. Walaupun secara sadar semua pasti setuju bahwa ketidakmelekatan membuat kita tidak terlalu tergantung dengan fasilitas-fasilitas tertentu, tetapi justru kita malah tetap tidak dapat hidup tanpa A,B,C dan sebagainya. Walaupun hidup dengan ketidakmelekatan akan membuat jiwa dan raga jauh lebih sehat tetapi seakan-akan manusia enggan untuk melepaskan diri dari kesenangan semu. Walaupun ketidakmelekatan membantu kita untuk menerima hal baik buruk dengan syukur dan memandang ke perspektif dimensi tujuan kekekalan, tetapi kita tetap lebih senang menyimpan duri dalam daging yang menyandu raga.
Sejauh ini saya bersyukur untuk apa yang sudah Ia ajarkan bagi keluarga saya. Dari segala sesuatu yang telah kami alami sangat membuat kami tersadar bahwa dalam mengikuti jalan-Nya, rencana-Nya melepaskan kami dari format logika duniawi. Format logika duniawi malah mengikat pikiran kami dan menghalangi kenyataan bahwa Allah kita sejatinya adalah Sosok Yang Maha Kreatif. Ketidakmelekatan terhadap format logika duniawi membawa kita dapat memahami Kreativitas Allah yang indah di masa datang.
Dalam Alkitab sebenarnya banyak ayat-ayat yang mengajarkan ketidakmelekatan terhadap dunia. Misalnya nasihat untuk bekerja dengan kesadaran penuh tidak melekat dengan uang namun berkarya bagi Allah yang memudahkan kita untuk melihat bahwa apa yang kita miliki di dunia ini semata-mata anugerah Allah. Uang bukan lagi menjadi tuan, tetapi menjadi hadiah dari Tuhan. Namun yang terberat bagi saya adalah ayat yang telah saya kutip di atas, yaitu kemelekatan terhadap cinta kasih keluarga atau sesama yang saya kasihi. Ternyata Kristus pun sudah warning arti pemisahan itu sendiri. Tetapi mungkin selama ini maknanya menjadi sangat kabur, karena diri kita sendiri yang mungkin enggan untuk menerima ketidakmelekatan antarmanusia itu sendiri. Padahal tujuan Allah adalah sempurna, melepaskan kita dari ikatan yang menghalangi kita untuk masuk ke dalam kesempurnaan Allah.
Walaupun saya sedikit terkejut karena harus memahami ketidakmelekatan dari sebuah pikiran tentang skenario perpisahan, namun saya bersyukur karena-Nya. Itu karena Ia telah mengajarkan saya bagaimana seharusnya mengamalkan cinta kasih kepada keluarga saya dengan sesungguhnya.
Menyadari bahwa Tuhan terlebih mengasihi secara personal kepada orang-orang terkasih saya, maka saya dapat memahami karya Tuhan pada diri mereka. Bila saya tidak memperdulikan mereka, otomatis saya pun tidak memperdulikan Allah. Mereka adalah saluran cinta kasih Allah kepada saya, demikian sebaliknya. Dan bila saya harus sakit karena cinta yang terluka, saya pun percaya Tuhan akan menyembuhkan luka saya dan menegur orang yang saya cintai untuk menyelaraskan cintanya kembali kepada Allah. Atau bila kehilangan para tercinta di dunia, saya pun dapat bersyukur dan justru tidak perlu khawatir lagi karena sejatinya saya sudah mendapat cinta yang abadi di kehidupan saya kelak dengan kekasih-kekasih Allah.
Terinspirasi dari saudara-saudara yang tetap tabah walaupun mengalami kehilangan orang terkasihnya.
Filed under: refleksi, Testimoni Tagged: | jalan Tuhan, keluarga, ketidakmelekatan


Beberapa minggu yang lalu perikop tentang “Yesus membawa pemisahan” itu kujadikan akhir dari pengajaranku tentang “Raja Damai”. Kusuruh mereka berpikir kenapa Yesus tiba-tiba ngomong yang berkebalikan dengan statusnya sbagai “Raja Damai”… Namun sayangnya umat di persekutuan doa cenderung melupakan dan hilang begitu saja, barangkali karena kesibukan bekerja..:))
Secara garis besar aku setuju denganmu, kemelekatan memang kata kunci. Semakin kita lekat pada dunia (apapun itu) semakin susah pula untuk meninggalkannya kelak (meski pada akhirnya ya mau tak mau pasti akan tertinggalkan)…
Good writing, Fem…
Membaca ini membawa pencerahan bahwa hidup ini, dalam kolong manapun termasuk kolong iman, sejatinya tidak pernah ditampakkan rasa “manja”, “santai” . yang ada adalah selalu bertekun, tegas, kuat !
Selamat berakhir pekan!
Terima kasih Donny,
tidak mudah juga untuk aku ngerti hal ini
Ternyata Dia sungguh baik untuk menunjukkannya.
Selamat berakhir pekan juga ya
Istilah lain ‘ketidakmelakatan’ secara positif adalah sikap ‘lepas bebas’. Ada pepatah mengatakan “di mana hartamu berada di situ hatimu berada”. Pepatah ini mau mengatakan soal kemelekatan tadi, dan itu menghalangi kita untuk mengandalkan dan bersatu sepenuhnya dengan yang kuasa. Agar kita tidak terikat di dunia, maka kita perlu membangun sikap ‘lepas-bebas’ atau ketidakmelekatan.
Thanks Fekhi, artikel yang menarik…
Sama-sama, bung
GBU
Terimakasih kawan ….
Saya harus katakan bahwa uraianmu ini membuat peningkatan pemahaman yang lumayan bagi saya.
Bertahun-tahun saya mencoba “ketidak-melekatan” pada cinta orangtua, namun sampai sekarangpun belum tuntas. Dengan mencoba “penerapan” ketidakmelekatan, yang terjadi adalah aliran air mata disertai doa yang begini…”Ya Tuhan, dalam sedih ini saya mohon, agar kiranya bapak/ibu saya di pangkuan Abraham, bisa melihat anaknya ini sedang merindukan mereka ….. dan suatu saat akan bertemu mereka di hadapanMu…dst”
Itu baru tentang orang tua yang sangat kita cintai, yang kepergian mereka meninggalkan banyak penyesalan di hati saya, dalam hal hubungan pribadi dengan mereka. Masih banyak lagi.
sekali lagi terimakasih kawan….
Bang Raja, kalau rindu rasanya sah-sah saja ya
Tuhan juga selalu merindukan kita.
Yang harus kita waspadai adalah kepahitan yang timbul akibat kemelekatan yg akhirnya membuat kita terhilang dan kecewa. Itu yang Tuhan inginkan.
Bila ada penyesalan mungkin ada urusan yang harus kita selesaikan sendiri dengan Tuhan. Ia yang mampu menyembuhkan luka hati atau rasa bersalah
Tabah ya, bang
tadinya aku juga sangat takut dengan ‘kehilangan’ atau pun ‘perpisahan’…tetapi setelah berkali2 aku mengalaminya, ternyata ‘kehilangan/perpisahan’ itu ternyata bukanlah sebuah luka yg ditorehkan oleh nasib, takdir atau pun Tuhan sendiri, sehingga rasanya tak pantas untuk ditangisi berlarut-larut…karena ternyata kehilangan/perpisahan itu hanyalah sebuah awal dari babak baru yang menjanjikan yg dianugerahkan oleh Tuhan. Dengan kata lain…di balik kehilangan/perpisahan itu ada ‘kesembuhan’ yg diberikan oleh Tuhan…ada pengganti yg lebih baik yg diberikan oleh Tuhan…memang jalan Tuhan bukan jalanku karena Tuhan selalu memberikan yg terbaik dan yang paling kita butuhkan.
Benar Pudji
Tuhan memberkatimu
wah bagus sekali, tq sy punya kesempatan dapat membaca tulisan ini. GBU
Salam kenal Heriawan

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, semoga ada manfaatnya
GBU 2
Barangkali kemelekatan dan duka mendalam terjadi karena rasa memiliki manusia terhadap orang-orang yang dikasihinya. Harus diakui bahwa kita sering merasa menjadi yang paling berhak menentukan hidup/matinya orang yang kita kasihi. Ketika TUHAN berkehendak lain dari apa yang kita maui (ini berlaku bukan hanya dalam hal kematian orang yang kita kasihi), sering kita terjebak untuk menyalahkan TUHAN, atau setidaknya menganggapnya tidak adil. Sesuatu yang sesungguhnya sangat tidak pantas dilakukan oleh manusia yang sudah diberi kehormatan luar biasa oleh Sang Pencipta.
Aku sendiri belum pernah berada pada kondisi kehilangan yang sangat dalam, jadi mungkin pendapatku kurang obyektif. Tetapi semoga kalau suatu ketika aku harus mengalaminya, TUHAN akan berikan aku kekuatan untuk menanggungnya, seperti janji-NYA.
Thanks for the article Fem.
Makasih, Hen
GBU